Pages

Total Pengunjung

Jumat, 30 Agustus 2013

Ketika Semua Harus Berakhir


Kertas berwarna hitam bertuliskan UNDANGAN, terus kupandangi dari tadi. Huruf demi huruf, kata demi kata kuteliti dengan seksama. Antara yakin dan tidak. Sejenak ku intip di balik jendela kamarku yang tak berkaca, ku lihat rona merah membingkai kaki langit sore itu. Senja berlalu dengan cepat, waktu terus berlari menggapai malam. Terasa dingin mulai merasuk tulang sumsum. Tersentak dari lamunanku, aku baru sadar ternyata semuanya harus berakhir hari ini. Malam itu setelah shalat magrib, aku mulai memantapkan hati untuk tetap datang di resepsi pernikahannya walaupun hati ini menangis.
Semua mata tertuju padaku, seakan-akan aku ini Teroris yang sedang di cari oleh aparat kepolisian. Langkahku semakin terasa berat, ingin rasanya muka ini kusembunyikan supaya orang tidak memandangku. Semakin dekat semakin berat langkah ini. Tak kuasa kuayunkan tangan dan ku jabat tangannya dengan erat. “Kak… selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia” ucapku dengan nada terbata diiringi bibir yang bergetar. Ku tarik nafas perlahan-lahan dan tersenyum manis pada mempelai wanita. Di tengah keramaian saat ini, aku malah merasa kesepian. Diantara banyaknya tawa dan senyum kebahagiaan, aku malah diselimuti kesedihan. Apa yang mereka rasakan saat ini terbalik 360° dengan apa yang aku rasakan. Tiba-tiba getaran handphone yang aku pegang mengagetkanku. Ternyata itu telpon dari yuda sahabatku yang setia mengantarku ke tempat ini.
“Halo… Assalamualaikum Yud”. “Waalaikum salam” balas yuda di balik handphone. “Din… kamu baik-baik saja kan? aku cemas dengan keadaanmu sekarang”. “Yud, tolong aku! bawa aku keluar dari tempat ini”. Tanpa menjawab sepatah katapun, yuda langsung menutup telponnya dan bergegas lari menuju sahabatnya yaitu dina. Kakiku terasa kaku dan sulit untuk digerakkan, akhirnya yuda memapahku keluar dari tempat itu. “Din… din, kamu ngak apa-apa kan?” Tanya yuda dengan muka cemas. “Yud… antar aku pulang sekarang!” “baik din… kalau itu yang kamu mau”. Dengan laju sedikit lambat, yuda mengantarku pulang dengan scooter antiknya yang berwarna biru itu.
“Nak yuda… ada apa dengan dina?” Tanya ibu kepada yuda dengan sedikit cemas. “Yuda juga tidak tau bu, tiba-tiba dina seperti ini dan minta sama saya untuk di antar pulang”. “Din… dina, kamu kenapa nak? ibu kan sudah melarangmu untuk datang ke resepsi pernikahannya Zaky tapi kenapa kamu tetap datang juga kesana. Ibu khawatir kamu akan sakit hati melihat Zaky bersanding dengan wanita lain”. Tanya ibu dengan panjang lebar.
“Bu… aku ini capek, jadi tolong yud… antar aku ke kamar sekarang juga”. “Baik din, tante saya permisi dulu mau mengantar dina ke kamar” ucap yuda sambil memapah dina ke kamar. “Din… kamu istirahat yah! kalau begitu aku pamit pulang dulu soalnya sudah larut malam”. tiba-tiba dina menarik tangan yuda dan meminta yuda untuk menemania dia malam ini. Yuda yang saat itu sangat khawatir dengan keadaan sahabatanya pun menyetujui permintaan dina.
Hampir 1 jam dina curhat pada yudha, dina merasa lega dan beban pikirannya sedikit berkurang setelah menjelaskan semua masalah yang membuatnya down saat ini. Spontan yudha memeluk dina dan meneteskan air mata. “din… jika kamu punya masalah baik itu masalah kecil maupun masalah besar, saya siap jadi tong sampah untuk menampung masalah yang sedang kamu alami”. Ucap yudha dengan bijak sambil menepuk bahu sahabatnya itu. Percakapan mereka pun berakhir saat yudha pamit pulang pada ibu dan dina. Semenjak yudha pamit pulang, dina terlihat murung di depan televisi. Tiba-tiba diambilnya kembali isi undangan berwarna hitam yang tadi sore iya simpan di dekat televisi. Dina berlari menuju kamar sambil membawa isi undangan itu.
Aku masih ingat, 2 tahun yang lalu aku dan kak Zaky dijodohkan oleh kak Heni yang tak lain kakak perempuannya kak Zaky. Awalnya aku sempat tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi akhirnya aku coba untuk mengenal kak Zaky demi menghargai niat baiknya kak Heni. Pertama ketemu dengan kak Zaky, saat itu juga aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Waktu itu kami ketemu dalam suatu acara buka puasa bersama yang diadakan di rumah kak Zaky. Aku yakin kak Heni sengaja mengundangku untuk datang ke acara itu supaya aku dan kak Zaky bisa bertemu langsung. Sejak pertemuan itu kami mulai akrab, aku dan kak Zaky selalu SMSan. Awalnya respon kak Zaky begitu baik padaku, lama kelamaan mulai berubah. Sempat aku berfikir kak Zaky juga setuju dengan perjodohan ini, tapi ternyata kak Zaky cuma menganggapku teman biasa saja tidak lebih. Hatiku saat itu sangat sakit waktu kak Zaky menjelaskan tentang perasaannya kepadaku yang sebenarnya. Aku kecewa mendengar pengakuan kak Zaky malam itu, yang lebih aku sesalkan saat aku menyetujui perjodohan itu. ucap dina dengan rasa penyesalan.
“Ya Allah… seandainya waktu bisa di ulang kembali, lebih baik aku tidak mengenal kak Zaky yang saat ini tersenyum bahagia bersanding dengan wanita lain”. ucap dina sambil meneteskan air mata. “Ya Allah… aku berjanji, jika esok aku masih bisa melihat indahnya pagi hari yang engkau ciptakan. Maka izinkan aku selalu bersyukur dengan apa yang engkau berikan saat ini”. ucap dina sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

Jumat, 30 Agustus 2013

Ketika Semua Harus Berakhir


Kertas berwarna hitam bertuliskan UNDANGAN, terus kupandangi dari tadi. Huruf demi huruf, kata demi kata kuteliti dengan seksama. Antara yakin dan tidak. Sejenak ku intip di balik jendela kamarku yang tak berkaca, ku lihat rona merah membingkai kaki langit sore itu. Senja berlalu dengan cepat, waktu terus berlari menggapai malam. Terasa dingin mulai merasuk tulang sumsum. Tersentak dari lamunanku, aku baru sadar ternyata semuanya harus berakhir hari ini. Malam itu setelah shalat magrib, aku mulai memantapkan hati untuk tetap datang di resepsi pernikahannya walaupun hati ini menangis.
Semua mata tertuju padaku, seakan-akan aku ini Teroris yang sedang di cari oleh aparat kepolisian. Langkahku semakin terasa berat, ingin rasanya muka ini kusembunyikan supaya orang tidak memandangku. Semakin dekat semakin berat langkah ini. Tak kuasa kuayunkan tangan dan ku jabat tangannya dengan erat. “Kak… selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia” ucapku dengan nada terbata diiringi bibir yang bergetar. Ku tarik nafas perlahan-lahan dan tersenyum manis pada mempelai wanita. Di tengah keramaian saat ini, aku malah merasa kesepian. Diantara banyaknya tawa dan senyum kebahagiaan, aku malah diselimuti kesedihan. Apa yang mereka rasakan saat ini terbalik 360° dengan apa yang aku rasakan. Tiba-tiba getaran handphone yang aku pegang mengagetkanku. Ternyata itu telpon dari yuda sahabatku yang setia mengantarku ke tempat ini.
“Halo… Assalamualaikum Yud”. “Waalaikum salam” balas yuda di balik handphone. “Din… kamu baik-baik saja kan? aku cemas dengan keadaanmu sekarang”. “Yud, tolong aku! bawa aku keluar dari tempat ini”. Tanpa menjawab sepatah katapun, yuda langsung menutup telponnya dan bergegas lari menuju sahabatnya yaitu dina. Kakiku terasa kaku dan sulit untuk digerakkan, akhirnya yuda memapahku keluar dari tempat itu. “Din… din, kamu ngak apa-apa kan?” Tanya yuda dengan muka cemas. “Yud… antar aku pulang sekarang!” “baik din… kalau itu yang kamu mau”. Dengan laju sedikit lambat, yuda mengantarku pulang dengan scooter antiknya yang berwarna biru itu.
“Nak yuda… ada apa dengan dina?” Tanya ibu kepada yuda dengan sedikit cemas. “Yuda juga tidak tau bu, tiba-tiba dina seperti ini dan minta sama saya untuk di antar pulang”. “Din… dina, kamu kenapa nak? ibu kan sudah melarangmu untuk datang ke resepsi pernikahannya Zaky tapi kenapa kamu tetap datang juga kesana. Ibu khawatir kamu akan sakit hati melihat Zaky bersanding dengan wanita lain”. Tanya ibu dengan panjang lebar.
“Bu… aku ini capek, jadi tolong yud… antar aku ke kamar sekarang juga”. “Baik din, tante saya permisi dulu mau mengantar dina ke kamar” ucap yuda sambil memapah dina ke kamar. “Din… kamu istirahat yah! kalau begitu aku pamit pulang dulu soalnya sudah larut malam”. tiba-tiba dina menarik tangan yuda dan meminta yuda untuk menemania dia malam ini. Yuda yang saat itu sangat khawatir dengan keadaan sahabatanya pun menyetujui permintaan dina.
Hampir 1 jam dina curhat pada yudha, dina merasa lega dan beban pikirannya sedikit berkurang setelah menjelaskan semua masalah yang membuatnya down saat ini. Spontan yudha memeluk dina dan meneteskan air mata. “din… jika kamu punya masalah baik itu masalah kecil maupun masalah besar, saya siap jadi tong sampah untuk menampung masalah yang sedang kamu alami”. Ucap yudha dengan bijak sambil menepuk bahu sahabatnya itu. Percakapan mereka pun berakhir saat yudha pamit pulang pada ibu dan dina. Semenjak yudha pamit pulang, dina terlihat murung di depan televisi. Tiba-tiba diambilnya kembali isi undangan berwarna hitam yang tadi sore iya simpan di dekat televisi. Dina berlari menuju kamar sambil membawa isi undangan itu.
Aku masih ingat, 2 tahun yang lalu aku dan kak Zaky dijodohkan oleh kak Heni yang tak lain kakak perempuannya kak Zaky. Awalnya aku sempat tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi akhirnya aku coba untuk mengenal kak Zaky demi menghargai niat baiknya kak Heni. Pertama ketemu dengan kak Zaky, saat itu juga aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Waktu itu kami ketemu dalam suatu acara buka puasa bersama yang diadakan di rumah kak Zaky. Aku yakin kak Heni sengaja mengundangku untuk datang ke acara itu supaya aku dan kak Zaky bisa bertemu langsung. Sejak pertemuan itu kami mulai akrab, aku dan kak Zaky selalu SMSan. Awalnya respon kak Zaky begitu baik padaku, lama kelamaan mulai berubah. Sempat aku berfikir kak Zaky juga setuju dengan perjodohan ini, tapi ternyata kak Zaky cuma menganggapku teman biasa saja tidak lebih. Hatiku saat itu sangat sakit waktu kak Zaky menjelaskan tentang perasaannya kepadaku yang sebenarnya. Aku kecewa mendengar pengakuan kak Zaky malam itu, yang lebih aku sesalkan saat aku menyetujui perjodohan itu. ucap dina dengan rasa penyesalan.
“Ya Allah… seandainya waktu bisa di ulang kembali, lebih baik aku tidak mengenal kak Zaky yang saat ini tersenyum bahagia bersanding dengan wanita lain”. ucap dina sambil meneteskan air mata. “Ya Allah… aku berjanji, jika esok aku masih bisa melihat indahnya pagi hari yang engkau ciptakan. Maka izinkan aku selalu bersyukur dengan apa yang engkau berikan saat ini”. ucap dina sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Social Icons

Telusuri

Featured Posts

Ketika Semua Harus Berakhir


Kertas berwarna hitam bertuliskan UNDANGAN, terus kupandangi dari tadi. Huruf demi huruf, kata demi kata kuteliti dengan seksama. Antara yakin dan tidak. Sejenak ku intip di balik jendela kamarku yang tak berkaca, ku lihat rona merah membingkai kaki langit sore itu. Senja berlalu dengan cepat, waktu terus berlari menggapai malam. Terasa dingin mulai merasuk tulang sumsum. Tersentak dari lamunanku, aku baru sadar ternyata semuanya harus berakhir hari ini. Malam itu setelah shalat magrib, aku mulai memantapkan hati untuk tetap datang di resepsi pernikahannya walaupun hati ini menangis.
Semua mata tertuju padaku, seakan-akan aku ini Teroris yang sedang di cari oleh aparat kepolisian. Langkahku semakin terasa berat, ingin rasanya muka ini kusembunyikan supaya orang tidak memandangku. Semakin dekat semakin berat langkah ini. Tak kuasa kuayunkan tangan dan ku jabat tangannya dengan erat. “Kak… selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia” ucapku dengan nada terbata diiringi bibir yang bergetar. Ku tarik nafas perlahan-lahan dan tersenyum manis pada mempelai wanita. Di tengah keramaian saat ini, aku malah merasa kesepian. Diantara banyaknya tawa dan senyum kebahagiaan, aku malah diselimuti kesedihan. Apa yang mereka rasakan saat ini terbalik 360° dengan apa yang aku rasakan. Tiba-tiba getaran handphone yang aku pegang mengagetkanku. Ternyata itu telpon dari yuda sahabatku yang setia mengantarku ke tempat ini.
“Halo… Assalamualaikum Yud”. “Waalaikum salam” balas yuda di balik handphone. “Din… kamu baik-baik saja kan? aku cemas dengan keadaanmu sekarang”. “Yud, tolong aku! bawa aku keluar dari tempat ini”. Tanpa menjawab sepatah katapun, yuda langsung menutup telponnya dan bergegas lari menuju sahabatnya yaitu dina. Kakiku terasa kaku dan sulit untuk digerakkan, akhirnya yuda memapahku keluar dari tempat itu. “Din… din, kamu ngak apa-apa kan?” Tanya yuda dengan muka cemas. “Yud… antar aku pulang sekarang!” “baik din… kalau itu yang kamu mau”. Dengan laju sedikit lambat, yuda mengantarku pulang dengan scooter antiknya yang berwarna biru itu.
“Nak yuda… ada apa dengan dina?” Tanya ibu kepada yuda dengan sedikit cemas. “Yuda juga tidak tau bu, tiba-tiba dina seperti ini dan minta sama saya untuk di antar pulang”. “Din… dina, kamu kenapa nak? ibu kan sudah melarangmu untuk datang ke resepsi pernikahannya Zaky tapi kenapa kamu tetap datang juga kesana. Ibu khawatir kamu akan sakit hati melihat Zaky bersanding dengan wanita lain”. Tanya ibu dengan panjang lebar.
“Bu… aku ini capek, jadi tolong yud… antar aku ke kamar sekarang juga”. “Baik din, tante saya permisi dulu mau mengantar dina ke kamar” ucap yuda sambil memapah dina ke kamar. “Din… kamu istirahat yah! kalau begitu aku pamit pulang dulu soalnya sudah larut malam”. tiba-tiba dina menarik tangan yuda dan meminta yuda untuk menemania dia malam ini. Yuda yang saat itu sangat khawatir dengan keadaan sahabatanya pun menyetujui permintaan dina.
Hampir 1 jam dina curhat pada yudha, dina merasa lega dan beban pikirannya sedikit berkurang setelah menjelaskan semua masalah yang membuatnya down saat ini. Spontan yudha memeluk dina dan meneteskan air mata. “din… jika kamu punya masalah baik itu masalah kecil maupun masalah besar, saya siap jadi tong sampah untuk menampung masalah yang sedang kamu alami”. Ucap yudha dengan bijak sambil menepuk bahu sahabatnya itu. Percakapan mereka pun berakhir saat yudha pamit pulang pada ibu dan dina. Semenjak yudha pamit pulang, dina terlihat murung di depan televisi. Tiba-tiba diambilnya kembali isi undangan berwarna hitam yang tadi sore iya simpan di dekat televisi. Dina berlari menuju kamar sambil membawa isi undangan itu.
Aku masih ingat, 2 tahun yang lalu aku dan kak Zaky dijodohkan oleh kak Heni yang tak lain kakak perempuannya kak Zaky. Awalnya aku sempat tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi akhirnya aku coba untuk mengenal kak Zaky demi menghargai niat baiknya kak Heni. Pertama ketemu dengan kak Zaky, saat itu juga aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Waktu itu kami ketemu dalam suatu acara buka puasa bersama yang diadakan di rumah kak Zaky. Aku yakin kak Heni sengaja mengundangku untuk datang ke acara itu supaya aku dan kak Zaky bisa bertemu langsung. Sejak pertemuan itu kami mulai akrab, aku dan kak Zaky selalu SMSan. Awalnya respon kak Zaky begitu baik padaku, lama kelamaan mulai berubah. Sempat aku berfikir kak Zaky juga setuju dengan perjodohan ini, tapi ternyata kak Zaky cuma menganggapku teman biasa saja tidak lebih. Hatiku saat itu sangat sakit waktu kak Zaky menjelaskan tentang perasaannya kepadaku yang sebenarnya. Aku kecewa mendengar pengakuan kak Zaky malam itu, yang lebih aku sesalkan saat aku menyetujui perjodohan itu. ucap dina dengan rasa penyesalan.
“Ya Allah… seandainya waktu bisa di ulang kembali, lebih baik aku tidak mengenal kak Zaky yang saat ini tersenyum bahagia bersanding dengan wanita lain”. ucap dina sambil meneteskan air mata. “Ya Allah… aku berjanji, jika esok aku masih bisa melihat indahnya pagi hari yang engkau ciptakan. Maka izinkan aku selalu bersyukur dengan apa yang engkau berikan saat ini”. ucap dina sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
 

Blogroll

About

Love Valentine's Day Pumping Heart